IDX LIVE TICKER
⚡
Energi & Komoditas Energi Batubara & Logistik #10 di IDX

$ADRO PT Adaro Energy Indonesia Tbk

"Raksasa Tambang Batubara Terintegrasi & Transformasi Hijau"

Didirikan / IPO 2004 / 2008
Kantor Pusat Menara Karya, Kuningan, Jakarta Selatan
Pengendali Konsorsium Keluarga Thohir, Soeryadjaya, & Garibaldi Thohir
Harga Pasar IDX (Live)
Rp 2.520 +1.2%
Kapitalisasi Pasar: Rp 114.2 Triliun
Pilar 1

Model Bisnis Riil & Produk Populer

Ringkasan Operasional Bisnis

Adaro Energy adalah salah satu produsen batubara thermal dan metallurgical (coking coal) terbesar dan berbiaya paling efisien di dunia. Perusahaan memiliki rantai pasok terintegrasi dari tambang di Kalimantan Selatan, tongkang sungai, pelabuhan apung, hingga pembangkit listrik PLTU. Saat ini sedang agresif bertransformasi membangun smelter aluminium hijau dan PLTA di Kalimantan Utara.

Daftar Produk & Merek Populer Sehari-hari

Thermal Coal

Envirocoal (Batubara Rendah Polutan)

Batubara ramah lingkungan dengan kadar abu dan sulfur sangat rendah untuk PLTU Asia.

Metallurgical Coal

Adaro Minerals (Coking Coal - ADMR)

Bahan baku utama peleburan bijih besi menjadi baja industri.

Infrastruktur Energi

Adaro Logistics & Power

Armada tongkang Maritim Barito Perkasa dan PLTU Batang 2x1.000 MW.

Green Metals

Smelter Aluminium Hijau (Kaltara Industrial Park)

Proyek hilirisasi aluminium bertenaga energi air (PLTA).

Struktur Sumber Pendapatan (Revenue Segments)

Penjualan Batubara Termal & Metalurgi 88% Kontribusi

Ekspor ke Tiongkok, India, Jepang, Korea Selatan, dan pasar domestik DMO.

Jasa Logistik & Tongkang Batubara 8% Kontribusi

Jasa angkut tongkang dan transshipment lepas pantai.

Pembangkitan Listrik & Air 4% Kontribusi

Pasokan listrik ke PLN dan pengelolaan air bersih industri.

Pilar 2

Metrik Fundamental & Valuasi Saham

Price to Earnings (PER) Murah
4.8x

Laba bersih per lembar saham dibanding harga pasar saat ini.

Price to Book Value (PBV) Murah
0.92x

Nilai pasar perusahaan dibanding total ekuitas/aset bersih.

Return on Equity (ROE) Profitabilitas
22.4%

Kemampuan manajemen mencetak laba bersih dari modal pemegang saham.

Net Profit Margin (NPM) Efisiensi
26.5%

Persentase laba bersih dari total omzet penjualan kotor.

Debt to Equity (DER) Sehat / Rendah
0.28x

Rasio total utang dibanding ekuitas. DER < 1x sangat aman.

Dividend Yield Cashflow
12.5%

Imbal hasil dividen tunai per tahun terhadap harga saham saat ini.

Status Valuasi Saat Ini: Murah / Undervalued

Valuasi PER di bawah 5x dengan posisi kas bersih (*net cash*) melimpah. Arus kas operasional yang luar biasa kuat memungkinkan pembagian dividen bernilai triliunan rupiah.

Pilar 3

Rekam Jejak Dividen & Cash Flow

Frekuensi Pembagian 2x per tahun (Interim di Januari & Final di Mei)
Rata-rata Payout Ratio (DPR) 55% dari Laba
Konsistensi Pembagian 16 Tahun Berturut-turut

Juara dividen bursa dengan yield konsisten dua digit (10-15%) saat siklus harga komoditas batubara berada di level sehat.

Riwayat Dividen Tunai Terakhir

Tahun Buku Dividen Per Lembar (DPS) Dividend Yield (Saat Cum Date) Status Pembagian
2024 Rp 450 12.5% ✓ Sukses Dibagikan
2023 Rp 580 15.2% ✓ Sukses Dibagikan
2022 Rp 420 11.8% ✓ Sukses Dibagikan
Pilar 4

Keunggulan Kompetitif (Moat) & Risiko Bisnis

Tingkat Parit Pertahanan Bisnis: 🏰 Wide Moat (Kuat & Dominan)

Kepemilikan armada tongkang sendiri dan jalur sungai Barito memungkinkan Adaro tetap mencetak laba bahkan saat harga batubara dunia jatuh ke level terendah.

Kunci Keunggulan Kompetitif ($ADRO):

✓ Biaya Penambangan & Logistik Paling Efisien (Low Cost Operator)
✓ Rantai Pasok Tertutup Sendiri (Tambang, Tongkang, Pelabuhan)
✓ Merek Envirocoal yang Diakui PLTU Jepang & Korea
⚠️

Faktor Risiko Bisnis

  • Transisi energi global menuju energi terbarukan jangka panjang yang mengurangi konsumsi PLTU.
  • Kebijakan kuota impor dan produksi batubara domestik dari Tiongkok dan India.
  • Penerapan royalti tambang dan tarif pajak emisi karbon.
🚀

Katalis Pertumbuhan Masa Depan

  • Penyelesaian proyek smelter aluminium di Kaltara yang akan menjadi sumber laba baru non-batubara.
  • Permintaan tinggi coking coal untuk industrialisasi dan pembangunan infrastruktur India.
  • Dividen jumbo rutin yang menjadi penopang valuasi saham.